hay gan sudah lama nih ga ketemu,karena masalah waktu dan pulsa saya jadi jarang upload nih tapi kali ini saya akan upload tentang salah satu media kultur jaringan yaitu adalah media MS
( MURASAGE AND SKOOG ) langsung aza nih dibaca artikel nya.
Media
MS / Murashige Skoog
Media
Murashige & Skoog (MS) merupakan perbaikan komposisi media Skoog, terutama
kebutuhan garam anorganik yang mendukung pertumbuhan optimum pada kultur
jaringan tembakau. Media MS mengandung 40 mM N dalam bentuk NO3 dan 29 mM N
dalam bentuk NH4+. Kandungan N ini, lima kali lebih tinggi dari N total yang
terdapat pada media Miller, 15 kali lebih tinggi dari media tembakau
Hildebrant, dan 19 kali lebih tinggi dari media White. Kalium juga ditingkatkan
sampai 20 mM, sedangkan P, 1.25 mM. Unsur makro lainnya konsentrasinya
dinaikkan sedikit. Pertama kali unsur-unsur makro dalam media MS dibuat untuk
kultur kalus tembakau, tetapi komposisi MS ini sudah umum digunakan untuk
kultur jaringan jenis tanaman lain, (Erwin, 2009).
Media MS paling banyak digunakan untuk berbagai tujuan kultur pada tahun-tahun sesudah penemuan media MS, sehingga dikembangkan media-media lain berdasarkan media MS tersebut, antara lain media Lin & Staba, menggunakan media dengan setengah dari komposisi unsur makro MS, dan memodifikasi : 9 mM ammonium nitrat yang seharusnya 10mM, sedangkan KH2 PO4 yang dikurangi menjadi 0.5 Mm, tidak 0.625 mM.
Media MS paling banyak digunakan untuk berbagai tujuan kultur pada tahun-tahun sesudah penemuan media MS, sehingga dikembangkan media-media lain berdasarkan media MS tersebut, antara lain media Lin & Staba, menggunakan media dengan setengah dari komposisi unsur makro MS, dan memodifikasi : 9 mM ammonium nitrat yang seharusnya 10mM, sedangkan KH2 PO4 yang dikurangi menjadi 0.5 Mm, tidak 0.625 mM.
Adapun kompisisi medium kultur jaringan
tanaman adalah sebagai
berikut:
1) Air
Air merupakan komponen yang penting di
dalam pengkulturan eksplan karena 95% dari medium mengandung air. Untuk tujuan
penelitian, digunakan air destilasi, dan untuk penelitian dengan materi eksplan
dari protoplas, meristem dan sel sebaiknya digunakan aquabides (Welsh 1991).
Dimana air destilasi (air suling) tersebut telah steril dari kontaminasi
mikroorganisme atau substansi yang dapat merusak proses perkembangan eksplan
(Katuuk, 1989).
2) Larutan Garam Anorganik
Tiap tanaman memerlukan setidaknya 6
elemen makronutrien, yaitu unsur yang diperlukan dalam jumlah besar meliputi N,
K, Mg, Ca, S, P dan 7 elemen mikronutrien, yaitu unsur yang diperlukan dalam
jumlah kecil meliputi Fe, Mn, B, Mo, Cl (Wetherell, 1976). Unsur-unsur makro
biasanya diberikan dalam bentuk NH4NO3, KNO3,
CaCl2.2H2O, MgSO4.7H2O dan KH2PO4,
sedangkan unsur mikro biasanya diberikan dalam bentuk MnSO4.4H2O,
ZnSO4.4H2O, H3BO3, KI, Na2MoO4.2H2O5,
CuSO4.5H2O dan CoCl2.6H2O
(Hendaryono dan Wijayani, 1994).
pereduksi yang berfungsi mereduksi
indikator-indikator seperti ion kupri (Cu2+) menjadi bentuk kupro
(Cu+) yang bermanfaat pada perkembangan dan perbaikan (Stryer,
1996).
Vitamin adalah bahan yang perlu
ditambahkan dalam medium kultur in vitro, sebab sel bagian tanaman yang
dikulturkan secara in vitro belum mampu membuat vitamin sendiri untuk
kehidupannya (Katuuk, 1989). Vitamin yang sering ditambahkan ke dalam medium
adalah tiamin (vitamin B1), asam nikotinat (niasin), piridoksin
(vitamin B6).
3) Zat-zat organik
Senyawa kimia organik yang biasa
dipakai sebagai sumber energi dalam kultur in vitro adalah karbohidrat.
Karbohidrat tersusun atas unsur-unsur C, H, O sebagai elemen penyusun utama.
Bahan-bahan organik yang termasuk karbohidrat meliputi gula, pati dan selulosa.
Karbohidrat mempunyai dua fungsi utama yaitu sebagai sumber energi untuk
jaringan dan untuk keseimbangan tekanan osmotik dalam medium. Karbohidrat yang
sering digunakan adalah sukrosa meskipun kadang-kadang diganti dengan glukosa
(Wetherell, 1982). Menurut Yusnita (2003), glukosa dan fruktosa dapat digunakan
tetapi harganya lebih mahal hasilnya tidak selalu lebih baik daripada sukrosa.
Konsentrasi sukrosa yang digunakan berkisar 1 – 5% (10 - 15 g/l), tetapi untuk
kebanyakan pengkulturan konsentrasi optimum sukrosa adalah 2 - 3%. Sedangkan
menurut Wetherell (1982), kadar sukrosa untuk keperluan pengkulturan berkisar
antara 2 - 4%. Menurut Suryowinoto (1996), kadar sukrosa yang digunakan sebagai
sumber energi untuk menginduksi pertumbuhan eksplan dalam medium adalah 2 - 7%.
Katuuk (1989), menyatakan bahwa sukrosa bersifat labil terhadap suhu tinggi
sehingga apabila disterilkan dalam autoklaf bersama-sama zat lain akan
mengakibatkan penguraian sukrosa menjadi kombinasi antara sukrosa, D-glukosa,
dan D-fruktosa. Keuntungan dari penguraian ini adalah terbentuknya aldosa
(D-glukosa) dan ketosa (D-fruktosa) yang melimpah ruah.
ya gimana gan infonya, sekian dulu infonya tentang media MS ya kurang dan lebihnya mohon maaf karena saya juga manusia sampai jumpa di postingan berikutnya ya .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar